Pada malam itu desa Sukamaju dihadang hujan yang deras beserta petir yang menyambar, saat itulah bayi Ibu Ruminah lahir . Ibu Ruminah adalah seorang janda yang suaminya telah meninggal saat bayi itu masih di dalam kandungan , proses kelahiran bayi itu dibantu oleh dukun beranak satu-satunya di desa itu. bayi itu terlahir dengan sempurna , Ibu Ruminah terlihat sangat bahagia akhirnya bayi yang ia kandung selama 9 bulan telah lahir dengan selamat dan sempurna, walaupun bayi itu terlahir tanpa seorang ayah.Ibu Ruminah memberi nama bayi cantik itu adalah Lestari atau biasa dipanggil Tari.
14 Tahun Kemudian…..
“Ibu, Ibu…” teriak seorang anak gadis. “iya nak, ibu disini” teriak sang ibu dari belakang rumah “ibu…., ibu dimana si”teriak anak gadis itu dengan wajah yang sangat marah. Ibu itu langsung menghampiri anaknya yang sedang marah.
“iya nak ada apa”Tanya bu Mina.
“Ibu gimana si, kuping ibu tuli hah, dipanggil gak dateng-dateng” Bentak anak gadis itu.
“Maaf nak, dibelakang ibu harus menyelesaikan cucian orang”jelas ibu itu dengan lembut.
“udah ah bu, aku mau makan , sekarang makanannya mana”ucap gadis itu.
“Iya, sebentar ya, ibu ambilkan makanan dulu, ”kata ibu Mina yang langsung mengambil makanan .
“yaudah cepetan, jangan lama”ucap gadis itu dengan kasar.
Setelah Ibu Mina mengambil makanan untuk anaknya yang bernama Tari.
Tiba-tiba Tari langsung membuang makanan itu di hadapan ibunya.
“Astagfirullah alazim, kenapa kamu mumbuang makanan ini nak”ucap ibu Mina.
“Mau tau kenapa, Tari udah bosen bu makan tempe tahu terus setiap hari, Tari mau makan ayam bu”
“Nak
uang ibu tidak cukup untuk membeli ayam, sudalah nak makan aja apa
adanya , itu namanya kita mensyukuri nikmat yang sudah diberikan Allah
kepada kita”
“Nikmat, ini yang namanya nikmat, makan cuman pake tahu
ama tempe doang, pokonya tari gak makan kalau gak pake ayam, terserah
ibu mau nyari uang dimana, yang penting tari mau makan ayam , kalau gak
ibu tau sendiri akibatnya” ucap anak itu dengan mengancam.
“Iya nak, ibu akan berusaha untuk membeli ayam untuk kamu” kata ibu Tari
“Yaudah sana cepetan” ketus tari.
“oh, ya nak kamu hari ini tidak sekolah” Tanya ibu Ruminah.
“sekolah
untuk apa, kalau ujung-ujungnya aku dikatain sama teman-teman karena
punya ibu tukang cuci,dan miskin kaya ibu” kasar Tari.
“ya , Allah. Nak ilmu itu penting buat masa depan kamu”
“Ahh, ibu bawel, udah sana cepat beliin ayam, atau Tari kabur dari rumah ini” kata Tari dengan mengancam ibunya.
“Iya nak, ibu pergi dulu yaa, Assalamualaikum ” kata ibu Ruminah dengan lembut dan langsung pergi kepasar.
Sepanjang
jalan menuju pasar , Ibu Ruminah hanya dapat permintaan memikirkan
anaknya, dia sangat bingung bagaimana caranya dia dapat membelia ayam,
sementara uang yang dia miliki hanya tinggal dua ribu rupiah.
“ Ya ,
Allah bagaimana caranya hamba bisa memenuhi keinginan putri hamba, tidak
mungkin jika hamba hutang lagi kepada orang, pasti tidak ada yang ingin
meminjamkan hamba uang , karena hutang hamba sudah banyak terhadap
orang lain” ucap ibu Ruminah dalam hati . Tiba-tiba ibu Ruminah teringat
dengan cincin pemberian Almarhum suaminya, lalu dia pun langsung
melihat jari telunjuk yang terdapat sebuah cincin yang indah. Tanpa
pemikiran panjang ibu Ruminah langsung menuju took mas , dia akan
menjual cincin peberian almarhum suaminya, hanya untuk membeli ayam buat
anaknya.
“Permisi, Pak saya ingin menjual cincin ini” Ucap ibu Ruminah.
“Coba saya lihat” ucap seorang penjual toko mas.
“Kalau boleh saya tau, berapa ya pak harganya jika cincin itu dijual” Tanya Ibu.
“Kalau cincin seperti ini mah palingan harganya , dua ratus ribu”
“Apa, dua ratus ribu, saya membeli cincin itu seharga lima ratus ribu.” Sahut ibu Ruminah
“Ibu, sekarang harga mas lagi turun kalau ibu mau jual ya harganya segitu” kata bapak itu dengan kasar.
“Yasudahlah pak, saya mau, tidak apa-apa” ucap ibu Ruminah
Lalu
penjual toko itu langsung pergi mengambil uang. Ibu Ruminah hanya dapat
berdiam, dia merasa sangat berdosa karena dia sudah melanggar janjinya
untuk menjaga cincin pemberian suaminya.
“Mas, maafkan aku , aku
sudah melanggar janji itu. Maafkan aku, ku terpaksa, aku tidak mau putri
kita kelaparan” ucap Ibu Ruminah dalam hati. Tiba-tiba Bapak penjual
toko mas menghampiri ibu Ruminah.
“Ini bu , uangnya” ucap bapak itu dengan memberikan uang dua ratus ribu, kepada ibu Ruminah
“terima kasih pak.” Sahut ibu Ruminah.
Ibu
Ruminah langsung pergi ke kios ayam, dan dia langsung membeli ayam.
Sesampai dirumah ibu Ruminah langsung memasak ayam untuk anaknya. Lalu
setelah makanan untuk anaknya sudah siap , dia langsung memanggil
anaknya.
“Tari,tari sini nak ayamnya sudah matang, ayo nak kita makan, Tari” teriak ibu Ruminah.
“Iiiiiiihh, ibu berisik tau.” Ucap tari.
“Ayo nak , makanannya sudah matang, ayo kita makan” kata ibu dengan halus.
“iya-iya.”
Lalu merekapun makan bersama dengan lahap.
Keesokkan harinya…..
Saat
Ibu Ruminah dan anaknya Tari sedang menjemur pakaian di halaman rumah ,
tiba-tiba datang seorang perempuan cantik dengan memakai mobil mewah
berwarna merah datang kerumah Ibu Ruminah, Ibu Ruminah sangat terkejut
dengan kedatangn perempuan itu seperti ibu Ruminah mengenal perempuan
itu. Lalu perempuan itu menghampiri Ibu Ruminah dan anaknya.
“Hai Ruminah , sudah lama yaa, kita tidak bertemu” sapa perempuan itu.
“Iya Sinta sudah lama kita tidak bertemu.”sahut ibu.
“Ibu, siapa wanita itu?” Tanya Tari.
“Kamu tidak mengenal saya Tari, apa ibu kamu tidak pernah menceritakan keluarga ayah kamu.” Jelas perempuan itu.
“Keluarga ayah, ibu dia tante aku” Tanya Tari .
“Iya nak , dia tante kamu dia adik dari ayah kamu, dia namnya tante sinta”jelas ibu Ruminah.
“Tante, kenapa ibu gak pernah cerita sama Tari kalau ayah masih punya keluarga” ucap Tari dengan nada kasar.
“Mungkin ibu kamu takut kalau kamu nantinya akan diambil, oleh keluarga ayahmu”Sahut perempuan itu
“Maksud tante, apa”Tanya Tari.
“Tante datang kesini hanya untuk, menjemput kamu nak, tante mau kamu tinggal di kota sama tante dan eyang disana.”
“Tidak, saya tidak mau Tari diasuh olek kalian, Tari ibu mohon sama kamu nak tolong jangan ikut tante itu” kata ibu Ruminah.
“
Tari, sayang kalau kamu ikut tante ya , tante jamin kehidupan kamu akan
tercukupi, lagian kamu disana bukan hanya tinggal sama tante doang tapi
ada eyang disana, lihat ibu kamu tu memang egois , masa dia biarin kamu
sengsaran tinggal digubuk yang bau seperti ini, jadi kamu mau kan ikut
tante.” Ucap tante Sinta dengan merayu Tari. Suasana dirumah itu sangat
tegang dan Ibu Ruminah sangat ketakutan jika anak satu-satunya dia
diambil oleh keluarga suaminya.
“Tari, ibu mohon nak” ucap ibu Ruminah.
“Maaf
bu, Tari mau ikut tante Sinta, Ibu mau kan Tari sukses, jadi Tari
memutuskan untuk ikut tante Sinta” kata Tari yang menyakiti ibunya.
“Tarii ,nak”. Ucap ibu Ruminah dengan meneteskan air mata dipipinya.
“Bagus Tari, kamu memang anak yang pintar , ayo kita pergi sekarang dari gubuk ini,” ketus wanita itu.
“Ibu, Tari pergi dulu yaa” Pamit Tari.
“Tari…. Nak jangan tinggalin ibu” kata ibu Ruminah dengan berjatuhannya air mata dipipinya.
Taripun
pergi bersama tante Sinta dengan meninggalkan Ibunya. Ibu Ruminahpun
sangat sedih karena,anak yang dia kandung selama 9 bulan tega
meninggalkan dirinya.
Jakarta, dirumah eyang Tari.
Taripun
sudah sampai dirumah eyangnya yang sangat mewah menurutnya , dia sangat
senang karena akan tinggal dirumah yang mewah ini.
“wah , rumahnya
bagus sekali, lebih baik aku tinggal disini dari pada aku harus tinggal
di desa bersama ibu” Ucap Tari dalam hati.
“Tari ayo masuk” kata tante Sinta.
Saat
Tari masuk kerumah, wanita separuh baya menyambutnya dengan riang
gembira Lalu wanita itu memeluknya , ternyata wanita itu adalah eyangnya
Tari.
“Tari, ini eyang nak, eyang Titi.” Ucap wanita itu.
”eyang, Tari rindu sama eyang” kata Tari dengan memeluk eyangnya.
“Eyang juga rindu sekali sama Tari, ayo masuk Tari” ucap eyang Titi, lalu dia mengajak Tari masuk ke rumah mewahnya.
“ Tari, bagaimana kehidupan kamu disana”Tanya eyang Titi
“yaaah, dirumah ibu mah , gak enak nek, setiap hari makannya cuman tempe ama tahu.” Kata Tari.
“Terus gimana dengan sekolah kamu?” Tanya eyang itu lagi.
“ Tari gak sekolah enyang gak punya biaya”.
“Kalau kamu gak sekolah, apa yang kamu lakukan selama ini disana” Tanya Tante Sinta dengan nada suara yang agak keras.
“Yah , aku bantuin ibu kerja”
“Apa,
kamu kerja keterlaluan sekali Ruminah, dia sudah membunuh kakakku dan
sekarang dia tega menyuruh anaknya kerja, hanya demi kepentingan
dirinya.” Ucap tante Sinta dengan nada yang keras.
“Apa, Ibu membunuh ayah, maksud tante apa”Tanya Tari dengan pikiran yang membingungkan.
“iyaTari,
gara-gara ibu kamu, ayah kamu meninggal dan asal kamu tau setelah ayah
kamu meninggal ibu kamu langsung pergi begitu saja membawa kamu, padahal
kami ingin merawat kamu, tapi karena keegoisan ibu kamu , akibatnya
kamu menjadi menderita seperti ini” jelas tante Sinta dengan tegas.
“Sudah-sudah yang penting sekarang Tari sudah sama kita, Tari kamu maukan tinggal sama eyang disini.” Tanya eyang.
“ya, pastilah eyang, Tari pasti mau tinggal disini, Tari gak mau tinggal dirumah orang yang sudah membunuh ayah” Ucap Tari.
“Bagus Tari , memang kamu harus seperti itu” ucap Tante Sinta, dengan senyum kecil dibibirnya.
Akhirnya
Taripun tinggal dirumah eyangnya yang mewah itu bersama tante Sinta,
sementara ibunya dilupakan begitu saja. Ibu Ruminah sangat merindukan
Putrinya itu, setiap malam dia selalu berdoa agar putrinya dapat kembali
kepelukannanya.
“ Ya, Allah ya Tuhanku, hamba mohon kepadamu
kembalikanlah putri hamba ya Allah , hamba sangat merindukannya, sudah
berbulan-bulan dia tidak datang kesini, ya Allah semoga anak hamba masih
berada dijalanmu dan berilah dia kesehatan kepadanya ya Allah,
Aminn.”Doa Ibu Ruminah.
Beberapa Tahun kemudian….
Hari ini Ibu
Ruminah pergi ke kota hanya untuk menemui anaknya , dia sudah menjual
rumah yaitu harta satu-satunya agar dapat menemui anaknya yang berada di
kota. Sesampai dikota Ibu Ruminah langsung menuju rumah mertuanya dab
disanalah tempat Tari anaknya tinggal.
Sampai di Rumah Eyang Titi.
Ibu
Ruminah sudah sampai dirumah mertuanya itu, dia sedang berada di depan
gerbang rumah mertuanya, lalu tiba-tiba mata ibu Ruminah tertuju kepada
perempuan cantik memakai baju dress merah yang sedang duduk diteras
rumah, dan ternyata perempuan itu adalah Tari anak Ibu Ruminah dia sudah
menjadi gadis dewasa dan sangat cantik. Lalu Ibu Ruminah langsung
menyebut nama Tari.
“Tari, Tari” teriak ibu itu. Tari melihat ibu itu, lalu diapun terus memperhatikan ibu itu. Tiba-tiba Tari menyebut ibu.
“Ibu” ucap Tari yang langsung menghampiri ibunya.
“Tari , ini ibu nak, ya Allah ternyata kamu sudah jadi gadis cantik yang dewasa.” Ucap ibu Ruminah.
“Ibu ,mau ngapain kesini” Tanya Tari dengan ketus.
“Ya Allah nak, ibu kesini mau melihat kamu, ibu rindu sekali sama kamu.” Kata ibu.
“Hah
, rindu, udalah sebaiknya ibu pulang kampong sekarang juga, Tari gak
mau melihat orang yang udah pembunuh ayah.” Ucap Tari yang langsung
pergi meninggalkan ibunya. Ibu Ruminah hanya dapat berdiam memikirkan
kata-kata anaknya, dia sangat bingung mengapa Tari bisa berkata seperti
itu.
“nak, apa maksudmu ibu tidak mengerti, ini pasti ada kesalah
pahaman, Tari ,Tari dengerin ibu nak”Teriak ibu Ruminah. Lalu seorang
satpam mengusir ibu Ruminah.
“Ibu, sebaiknya ibu pergi dari sini, atau saya panggilkan polisi.” Kata satpam itu dengan kasar.
“Iya , baik pak”
“yasudah, sana cepat pergi” ucap satpan itu dengan nada suara tinggi.
Dirumah
Tari semua keluarga disana sangat terkejud dengan kedatangan ibu
Ruminah yang tak lain adalah ibunya Tari . Tiba-tiba seorang wanita
cantik memanggil namanya.
“Tari” panggil seorang wanita .
“Tante Sinta” sahut Tari.
“Apa benar ibu kamu datang kesini, terus dimana dia?” Tanya tante Sinta.
“aku sudah usir tante” ucap Tari.
“Apa, kamu mengusirnya” ucap tante Sinta.
“iya, memangnya kenapa tante” Tanya Tari dengan wajah yang serius.
“Kenapa kamu mengusirnya walau bagaimanapun juga, dia tetap ibu kamu Tari”kata tante Sinta.
“tante ini gimana sih, kan waktu dulu tante yang nyuruhn aku untuk membenci ibu.”
“Iya,
dulu tante memang berkata seperti itu, maafin tante Tari, tante sudah
melakukan kesalahan yan besar” ucap tante Sinta sambil meneteskan air
mata.
“Maaf tante , Tari sudah terlanjur benci sama Ibu , jadi Tari
tidak bisa menerima ibu lagi”kata Tari yang langsung pergi menuju
kamarnya.
“Ya Allah maafkalah hambamu ini” ucap tante sinta dengan berdoa.
Ibu
Ruminah terus berjalan mengikuti kata hatinya, tak tau harus kemana dia
pergi , kalau dia balik lagi ke kampong dimana dia harus tinggal, tapi
kalau dia tetap disini menuggu anaknya, apakah mungkin anaknya mau
menerimana dia atas kesalah pahaman ini. Saat ibu Ruminah sedang
berjalan, tiba-tiba mobil berhenti dihadapanya, lalu keluarlah seorang
pemuda dari mobil itu.
“Ibu, ibunya Tari ya”Tanya pemuda.
“ ya benar ,kamu siapa ya nak, kenapa kamu kenal sama anak saya” Tanya ibu Ruminah.
“oh ya bu ,perkenalkan saya Tio, kekasihnya Tari” ucap Tio dengan memperkenalkan dirinya.
“Ibu ingat, kamu yang tadi dirumah Tarikan.”
“Iya bu, oh ya ibu mau kemana?” Tanya Tio.
“Ibu, juga tidak tau nak mau pergi kemana.”
“Bagaimana , ibu tinggal dirumahku untuk sementara, sambil menyadarkan Tari.”ucap Tio
“Apa, tidak usah nak , nanti ibu malah merepotka kamu.”kata ibu Ruminah.
Ibu
Ruminah terus berjalan mengikuti kata hatinya, tak tau harus kemana dia
pergi , kalau dia balik lagi ke kampong dimana dia harus tinggal, tapi
kalau dia tetap disini menuggu anaknya, apakah mungkin anaknya mau
menerimana dia atas kesalah pahaman ini.
Keesokkannya….
Ibu
Ruminah datang lagi kerumah Tari, tapi disana ibu Ruminah diperlakukan
dengan kasar oleh anaknya sendiri, didepan eyang Titi dan tante Sinta.
“Ibu sebaiknya pergi dari sini, Tari gak mau melihat ibu lagi.” Kata Tari dengan kasar.
“Mengapa-mengapa kamu mengusir ibu, apa salah ibu Tari.” Tanya Ibu Ruminah , yang langsung meneteskan air mata.
“salah
ibu adalah karena ibu, ayah meninggal , karena ibu semasa kecil aku
selalu menderita, aku gak pernah bahagia kalau berada disisi ibu.”ujarku
“Nak,
dengerin ibu, bukan ibu yang menyebabkan ayah kamu meniggal, itu semua
sudah takdir Allah nak, lalu kalau ibu pulang kampong ibu mau tinggal
dimana, rumah sudah ibu jual hanya ingin menemui kamu.” Ucap ibu.
“oooooo,
jadi ibu kesini cuman mau minta duit sama , aku ini ini duit untuk ibu,
jadi sekarang ibu pergi dari sini.” Ucap Tari dengan mengusir ibunya.
Lalu tiba-tiba jantung Tari terasa sakit, dan Taripun jatuh pingsan.
Semua yang berada disana langsung panik termasuk ibunya Tari.
Tari
langsung dibawa kerumah sakit, sesampai di rumah sakit ,Tari langsung
diperiksa oleh dokter, tidak disangka dokter bilang kalau Jantung Tari
mengalami kebocoran jantung, keluarga Tari sangat tidak percaya dengan
omongan dokter, karena selama ini Tari terlihat sehat-sehat saja, tapi
mengapa tiba-tiba dokter bilang kalau Tari mengalami kebocoran jantung.
“Lalu bagaimana dok, caranya agar Tari sembuh?” Tanya eyangt Tari.
“cara satu-satunya adalah dengan mendonorkan jantung kepada Tari.” Ucap dokter itu.
“Dok,
biar saya saja yang mendonorkan jantung untuk cucu saya, saya sudah tua
sebentar lagi saya akan meninggal jadi biar saya saja yang mendonorka
jantung untuk cucu saya.” Ucap eyang.
“Maaf, bu saya tidak bisa mengambil jantung orang yang masih hidup.” Jelas dokter itu, yang langsung meninggalkan keluarga Tari.
Ibu
Ruminah sangat sedih karena anaknya mengidap penyakit yang sangat
mematikan. Ibu Ruminah langsung pergi meninggalkan rumah sakit, dia
tidak sanggup melihat anaknya menderita seperti itu, dia sangat sedih
sepanjang jalan dia hanya dapat menangisi anaknya.
“ Ya, Allah
mengapa kau memberikan penyakit kepada putri hamba, biarkanlah hamba
yang memiliki penyakit itu ya Allah.” Doa ibu Ruminah.
Saat ibu
Ruminah menyebrang jalan, tiba-tiba mobil hitam dari arah timur melaju
kencang dan menabrak ibu Ruminah. Ibu Ruminah langsung dibawa kerumah
sakit oleh orang-orang yang berada disana, sementara orang yang menabrak
ibu Ruminah langsung diamankan oleh pejalan kaki.
Di Rumah Sakit……
Tari, masih terbaling lemah tidak berdaya. Eyang dan Tantenya hanya bisa mengharapkan suatu mukzizat agar Tari dapat sembuh.
“Sinta, apa mungkin ini suatu azab yang dikasih Allah kepada Tari, karena Tari sudah durhaka kepada ibunya.” Ucap eyang Titi.
“Ini
semua salah Sinta, bu.. Sinta yang sudah membuat Tari menjadi anak
durhaka.” Kata tante Sinta yang terisak tangisan. Tiba-tiba seorang
dokter menghampiri mereka
“Ibu, kami mendapatkan kabar baik untuk Tari, kami sudah menemukan pendonor jantung untuk Tari.”ucap dokter itu.
“Apa, benar dokter, lalu siapa orang yang sudah mendonorkan jantungnya dok.” Tanya eyang.
“Dia
adalah korban tabrak lari, lalu dia berpesan sebelum dia meninggal, dia
ingin mendonorkan jantungnya untuk pasien yang bernama Tari, lalu ibu
itu bernama Ruminah.” Jelas dokter.
“Apa, Ruminah.Astagfirulah alazim, ya Allah betapa mulia hati seorang wanita itu.” Ucap tante Sinta.
“Jadi bagaimana, kita segera lakukan operasi, bu.”ujar dokter itu.
“Baiklah lakukanlah dokter.” kata eyang.
Operasi
itupun segera dilaksanakan, dan yang mendonorkan jantung untuk Tari
adalah ibunya sendiri, dia relah menggantika nyawanya untuk anaknya itu.
Beberapa
jam kemudian, dokter itu keluar dari ruang operasi dan mengabarkan
operasi itu berhasil dilakukan Tari telah selamat dari maut yang
mengancamnya, tapi dia telah kehilangan orang yang sudah melahirkanya.
Beberapa hari kemudian….
Tari
telah sadar kembali ,dia sudah bisa membuka matanya. Saat mata dia
membuka matanya, hanya ada eyang dan tantenya. Lalu Tari menanyakan
keberadaan ibunya.
“Ibu, ibu.” Ucap Tari yang memanggil ibunya.
“Tari , sayang kamu sudah sadar nak.” Ujar eyang.
“Eyang,
ibu dimana , Tari mau ketemu ibu.” Ucap Tari yang terus memanggil
ibunya. Tante dan Ibunya hanya bisa berdiam membisu mendengan Tari
mencari ibunya.
“Mengapa kalian diam, dimana ibu, Tari mau ketemu
ibu, Eyang tadi Tari mimpi ketemu ibu, lalu ibu ninggalin Tari Ibu
memberikan salam perpisahan sama Tari, eyang ibu mana Tari kangen sama
ibu, Tari menyesal karena sudah bersikap kasar sama Ibu.” Kata Tari.
“Sayang,
kamu harus tabah ya nak, ibu kamu… suda tiada lagi didunia ini, dia
meninggal akibat kecelakaan tabrak lari.” Jelas tante Sinta.
“Apa, gak mungkin ibu, gak mungkin meninggal.”
“Tari
kamu harus tau ini, orang yang sudah mendonorkan kamu jantung, itu
adalah ibu kamu, dia yang sudah mendonorkan jantungnya untuk kamu, agar
kamu tetap hidup.” Jelas eyang.
“ i i ibuuu, maafin Tari buu, Tari menyesal , ibuuu jangan tinggalin Tari.” teriak Tari yang terisak tangisan.
Tari
sangat menyesal atas perlakuannya kepada ibunya , dia sangat sedih dan
dia sangat terpukul atas kepergian ibunya , dia belum sempat meminta
maaf kepada ibunya yang sudah melahirkannya . Dia berjanji dia akan
selalu mendoakan ibunya setiap hari agar ibunya dapat diterima disisi
Allah SWT, tetapi sampai kapanpun rasa penyesalan dia masih tetap
membekas dihatinya.
Sayangilah ibumu dan Berikanlah kebahagiaan kepadanya, minta maaflah sebelum ajal datang menjemputnya.
Karya Nando Rizaldin Saputra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar